Senin, 09 Februari 2009

OBJEK WISATA GUA TOMPANGNGE


Parepare merupakan suatu kota kecil namun sangat indah dan cantik. Kekhasan kota ini dari segi panorama pemandangannya yang sangat menakjubkan. Kota yang dijuluki Bandar Madani ini, juga menawarkan beberapa objek wisata yang banyak dikunjungi orang.

Salah satu objek wisata alam yang menarik banyak orang untuk mengunjunginya adalah gua tompangnge atau biasa juga disebut gua kelelawar,mengingat gua ini banyak dihuni oleh ribuan kelelawar.

Ada dua jalan menuju Gua Tompangnge ini. Pertama jalan melaui Pesantren Al Badar,jalan ini cukup praktis karena dapat ditempuh melalui kendaraan hingga di bibir sungai. Sesampai di bibir sungai, dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar satu hingga dua kilometer untuk sampai ke Gua Tompangnge ini Namun jangan khawatir kelelahan, di Pesantren Al Badar terdapat usaha sapi perah. Di sini orang dapat menikmati susu sapi murni yang diperas sendiri dari sapinya dan harganya pun terjangkau hanya Rp 10 ribu per botolnya.

Sementara jalur kedua yang melalui Bilalangnge tembus hingga Lappa Angin, cukup jauh ditempuh dibandingkan dengan jalur pertama. Untuk melalui jalur ini, perjalanan harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 10 kilometer. Namun demikian kelebihan melalui jalur kedua ini, hamparan pemandangan indah terlebih melalui pinggiran sungai akan menyertai perjalanan.

Sesampai di mulut gua, sudah dapat disaksikan ribuan kelelawar yang memang hidup di gua tersebut. Jalan masuknya pun sangat berlumpur ,kotor dan bau sekali.” Saya hanya bisa masuk sampai 30 meter saja, karena untuk masuk ke dalam lagi perlu bantuan oksigen” ujar Iqbal, staf Dinas Pariwisata Parepare yang telah beberapa kali masuk ke gua tersebut.

Di sekitar Gua Tompangnge ini, juga terdapat air terjun yang sangat indah .Letaknya pun tidak terlalu jauh dari gua sekitar 500 meter saja. Pada air terjun tersebut, airnya mengalir dari untaian akar-akaran yang menggantung dari puncak bukit yang ada di sebelah Gua Tompangnge.

Objek wisata Goa Kelelawar diperuntukkan sebagai Obyek Wisata Alam yang dicanangkan luasnya ± 100 hektar, fungsinya lebih diarahkan pada fungsi konservasi hutan. Yang telah dilakukan adalah penyusunan Master Plan sebagai acuan dalam hal pengembangan lebih lanjut.

“Gua ini berpotensi untuk dikembangkan dan tentu saja untuk itu setidaknya kita harus melakukan survey dan penelitian terlebih dahulu. Dalam eksplorasi gua setidaknya perlu pemetaan gua untuk mengukur mulut gua, panjang gua, potensi air, dan potensi lainnya. termasuk potensi tinggalan budayanya. Tentu saja hal ini dapat terealisasi apabila dilakukan penelitian terlebih dahulu dengan melibatkan pihak yang berkompeten baik itu arkeolog maupun speolog.” ujar Yadi Mulyadi, arkeolog dari Unhas yang pernah melihat langsung ke Gua Tompangnge dan sekarang ini menempuh pendidikan S2 di UGM

Selain itu, terang Yadi, kandungan fosfat yang tinggi dari guano kelelawar yang dihasilkan, dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai pupuk alami. Dengan jumlah kelelawar yang sangat banyak, Gua Tompangeng dapat menghasilkan guano dengan jumlah yang cukup banyak. Hal ini merupakan potensi yang luar biasa, namun yang perlu di perhatikan adalah pengelolaan yang tepat sehingga tidak mengganggu keberadaan gua dan juga kelestarian gua

Gua Tompangnge ini memiliki cerita tersendiri di masyarakat sekitarnya, seperti yang diceritakan oleh Wa Dompu, pria yang telah lama bermukim bersama keluarganya di sekitar Gua Tompangnge. Ia menuturkan di dalam gua tesebut terdapat batu lappa (batu datar) yang dipergunakan untuk tempat ibadah.Di gua ini,lanjut dia, memang ada ”penjaganya”.(Muh.Yusni)